Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan peringatan dini terkait fenomena iklim global yang diprediksi akan menyapa Indonesia mulai pertengahan hingga semester kedua tahun 2026. Fenomena El Nino, yang pada tahun ini diprediksi memiliki intensitas yang perlu diwaspadai, berpotensi membuat musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan terasa jauh lebih menyengat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Seberapa Parah Prediksinya?
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam keterangan resminya pada April 2026 menyebutkan bahwa meski saat ini kondisi berada pada fase netral, indikasi penguatan menuju El Nino sudah mulai terbaca. Peluang kemunculannya diprediksi mencapai 80% pada semester kedua 2026.
Yang perlu diwaspadai bukan hanya suhunya yang tinggi, tetapi “efek ganda” yang ditimbulkan. Ketika El Nino bertemu dengan siklus kemarau rutin, curah hujan akan merosot drastis. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pencemaran debu halus yang dapat mengganggu kualitas udara yang kita hirup setiap hari.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Kekeringan ekstrem bukan hanya soal kegerahan, tetapi juga ancaman nyata bagi fungsi organ tubuh. Berdasarkan protokol kesehatan Kemenkes RI, ada beberapa risiko utama yang harus diwaspadai:
- Dehidrasi Berat & Heatstroke: Kehilangan cairan tubuh secara cepat yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga pingsan secara tiba-tiba.
- Masalah Pernapasan (ISPA): Udara kering membawa lebih banyak debu dan polutan yang mengiritasi paru-paru.
- Diare dan Tipus: Kekeringan sering kali berdampak pada penurunan kualitas air bersih, sehingga risiko penyakit saluran pencernaan meningkat.
- Serangan Nyamuk: Uniknya, saat kemarau panjang, nyamuk DBD justru bisa menjadi lebih ganas karena siklus hidup mereka yang terpengaruh oleh suhu udara yang panas.
Antisipasi Kesehatan: Persiapan Agar Tubuh Tidak “Drop”
Menghadapi cuaca ekstrem memerlukan persiapan fisik yang matang. Berikut adalah langkah praktis agar daya tahan tubuh tetap terjaga:
- 1. Manajemen Hidrasi Tanpa Menunggu Haus Minumlah air putih setidaknya 2–3 liter per hari. Jangan menunggu haus, karena haus adalah sinyal bahwa tubuh sudah mulai mengalami dehidrasi ringan. Tambahkan asupan buah yang kaya air seperti semangka, jeruk, atau mentimun untuk menjaga keseimbangan elektrolit.
- 2. Strategi Berpakaian dan Perlindungan Luar Gunakan pakaian berbahan katun yang longgar dan berwarna cerah agar panas matahari tidak langsung terserap ke tubuh. Penggunaan tabir surya (sunscreen) dengan minimal SPF 30 sangat dianjurkan untuk mencegah iritasi kulit. Jika harus keluar ruangan, gunakan pelindung tambahan seperti topi lebar atau payung.
- 3. Hindari Jam “Terik Berbahaya” Jika memungkinkan, batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Pada jam tersebut, intensitas radiasi UV berada di titik tertinggi yang paling berisiko memicu heatstroke.
- 4. Pola Makan dan Masker Kurangi konsumsi makanan pedas atau gorengan yang bisa memicu “panas dalam” dan radang tenggorokan di tengah udara yang kering. Gunakan masker saat berada di luar ruangan untuk menyaring debu dan polusi udara yang meningkat selama masa El Nino.
Sumber: Laporan Surveilans BMKG (April 2026), Protokol Kesehatan Kemenkes RI, dan Analisis Iklim Global 2026.



