Musim hujan yang berlangsung sejak akhir tahun 2025 hingga awal 2026 menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kesehatan. Beberapa wilayah di Indonesia mengalami banjir akibat curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan, yang berdampak tidak hanya pada aktivitas dan infrastruktur, tetapi juga pada kesehatan masyarakat. Dalam kondisi banjir, keterbatasan air bersih dan makanan higienis sering kali tidak terhindarkan, sehingga risiko penularan penyakit meningkat dan perlu diantisipasi bersama.
Secara umum, musim hujan dan banjir menciptakan lingkungan yang mendukung penyebaran penyakit. Air banjir dapat membawa kuman dari limbah dan kotoran hewan, genangan air menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, sementara kondisi lembap dan padat mempercepat penularan penyakit. Berdasarkan kajian Kementerian Kesehatan RI, WHO, serta berbagai jurnal kesehatan, terdapat beberapa penyakit yang paling sering muncul dan perlu diwaspadai pada situasi ini, diantaranya:
- 1. Diare dan infeksi saluran pencernaan:
- Diare atau infeksi saluran pencernaan bisa terjadi akibat dari mengonsumsi air maupun makanan yang terkontaminasi. Hal ini biasanya terjadi terutama saat akses air bersih terbatas di beberapa wilayah yang terkena dampak bencana banjir.
- 2. Leptospirosis:
- Penyakit infeksi zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, menular ke manusia melalui urine hewan terinfeksi (terutama tikus) yang mencemari air atau tanah, terutama saat banjir.
- 3. Demam Berdarah Dengue (DBD):
- Demam Berdarah Dengue (DBD) meningkat drastis saat musim hujan dan banjir karena genangan air menjadi tempat berkembang biak utama nyamuk Aedes aegypti.
- 4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA):
- ISPA meningkat saat musim hujan dan banjir akibat kelembapan tinggi, lingkungan kotor, dan penurunan imun. Penularan terjadi via droplet (batuk/bersin) dan tangan terkontaminasi. Gejala meliputi batuk, pilek, demam, dan sesak napas.
- 5. Penyakit kulit:
- Penyakit kulit sering meningkat saat musim hujan atau banjir akibat lingkungan lembap dan air kotor, yang memicu infeksi jamur, bakteri, dan dermatitis. Penyakit umum meliputi kutu air, kurap, selulitis, impetigo, dan dermatitis kontak.
Untuk mengurangi risiko penyakit tersebut, upaya penanggulangan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Cara Penanggulangan dan Antisipasi Umum
- 1. Menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan pakai sabun atau cairan pembersih tangan jika air terbatas.
- 2. Menghindari kontak langsung dengan air banjir sebisa mungkin dan segera membersihkan tubuh setelahnya.
- 3. Menguras atau menutup wadah air yang berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak.
- 4. Mengganti pakaian basah sesegera mungkin dan menjaga tubuh tetap kering.
- 5. Segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi, diare, atau keluhan yang memburuk.
Cara Penanggulangan dan Antisipasi bagi Korban Banjir dengan Keterbatasan Air Bersih dan Makanan Higienis
- 1. Mengutamakan air bersih yang tersedia untuk kebutuhan paling penting seperti minum dan kebersihan dasar, serta menggunakan air kemasan atau air bantuan jika ada.
- 2. Jika air harus digunakan bersama, air sebaiknya direbus hingga mendidih atau diberi tablet penjernih air sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- 3. Menggunakan hand sanitizer atau tisu basah antiseptik sebagai pengganti sementara cuci tangan dengan air dan sabun.
- 4. Mengonsumsi makanan bantuan yang masih tertutup rapat dan belum kedaluwarsa, serta menghindari makanan yang terendam air banjir.
- 5. Memanaskan kembali makanan sebelum dikonsumsi jika memungkinkan, untuk menurunkan risiko kontaminasi kuman.
- 6. Menggunakan alas kaki, plastik, atau bahan pelindung sederhana saat harus berjalan di area banjir untuk mencegah kontak langsung dengan air kotor.
- 7. Membersihkan dan menutup luka sekecil apa pun dengan perban atau kain bersih agar tidak menjadi pintu masuk kuman.
- 8. Mengatur jarak dan kebersihan lingkungan tempat mengungsi, termasuk tidak membuang sampah atau buang air sembarangan di sekitar lokasi pengungsian.
Kejadian banjir yang terjadi di beberapa daerah pada akhir 2025 hingga awal 2026 dapat dijadikan contoh dan pengingat bahwa dampak banjir tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan. Dengan memahami jenis penyakit yang sering muncul serta menerapkan langkah penanggulangan sederhana sesuai kondisi yang ada, masyarakat diharapkan dapat meminimalkan risiko sakit dan tetap menjaga kesehatan meski berada dalam situasi darurat.



